Bunga Rafflesia patma termasuk bunga langka, merupakan kerabat dekat (satu genus) dengan Rafflesia arnoldi, mekar untuk pertama kalinya sejak 81 tahun terakhir di Kebun Raya Bogor. Bunga langka ini tumbuh di luar habitat aslinya (eks situ) pada Senin (1 Juni) malam. Dan bagi yang ingin melihatnya kini terbuka untuk pengunjung umum yang ingin melihatnya.
Bunga Rafflesia patma yang mekar di Kebun Raya Bogor ini merupakan hasil pengembangan dan penelitian sejak tahun 2004 dengan mengambil inang berupa tumbuhan Tetrastigma (jenis anggur-angguran) dari kawasan Pangandaran, Jawa Barat.
Tumbuh dan mekarnya Rafflesia patma ini juga menjadi penanda kemenangan Indonesia atas Malaysia dalam penelitian Rafflesia. Mengingat hingga saat ini Malaysia hanya mampu membudidayakan Rafflesia di habitat aslinya (in situ) dan Indonesia telah mampu membudidayakan di luar habitat aslinya (eks situ).
Mengenal Rafflesia patma.
Rafflesia patma merupakan satu diantara 15 jenis (spesies) Rafflesia yang terdapat di Indonesia. Rafflesia patma mempunyai ukuran bunga berdiameter antara 25-30 cm. Bunganya mempunyai lima kelopak berwarna jingga muda agak pucat (salem). Yang membedakan dengan jenis Rafflesia lainnya, warna bunganya yang cenderung lebih pucat. Ciri khas lainnya adalah adanya duri-duri yang terdapat pada diktus.
Rafflesia patma pertama kali ditemukan pada tahun 1825 di pulau Nusakambangan, Jawa Tengah ini seperti jenis-jenis Rafflesia lainnya tidak dapat tumbuh sendiri. Rafflesia patma tumbuh pada akar dan batang inang Tetrastigma lanceolarium dan Tetrastigma papillosum.
Klasifikasi Ilmiah.
- Kerajaan: Plantae;
- Divisi: Magnoliophyta;
- Kelas: Magnoliopsida;
- Ordo: Malpighiales;
- Famili: Rafflesiaceae;
- Genus: Rafflesia;
- Spesies: Rafflesia patma
Nama Binomial Rafflesia patma (Blume, 1825). - Nama Indonesia: Rafflesia Patma.
Habitat yang sesuai untuk Rafflesia patma merupakan daerah antara tipe lautan pantai dengan tipe hutan hujan tropika dataran rendah (ekoton). Beberapa tempat yang menjadi habitat bunga ini antara lain pulau Nusakambangan (Jawa Tengah) dan Cagar Alam Leuweung Sancang (Jawa Barat).
Macam Jenis Rafflesia di Indonesia.
Ada sekitar 30-an spesies Rafflesia. Dan Indonesia memiliki jumlah spesies terbanyak sejumlah 15 spesies disusul oleh Malaysia yang mempunyai 7 spesies. 15 Spesies Rafflesia yang terdapat di Indonesia antara lain: Rafflesia arnoldi (R. Brown), Rafflesia hasseltii (Suringar), Rafflesia Patma (Blumenon Meijer), Rafflesia rochussenii (Teijsm and Binn), Rafflesia zollingertana (Koorders), Rafflesia priceii, Rafflesia godulensis, Rafflesia atjehensis (Koorders), Rafflesia ciliate, Rafflesia borneersis, Rafflesia witkampi, Rafflesia micropylora (Meijer), Rafflesia bengkuluwensis, Rafflessia meijeri (Wiriadinata and Rismita Sari), Rafflesia Lawangensis.
Referensi:
• zipcodezoo.com/Plants/R/Rafflesia_patma;
• antaranews.com/berita/1275470315/rafflesia-patma-mekar-di-kebun-raya-bogor;
Laporan Kimia Analitik Asisten : Arini septianti
Dosen : Zulhan Arief, S.Si
Hari/tanggal : Senin,
Nama : Afticha Fauzana
NRP : G34070058
OKSIDI REDUKTOMETRI
Pendahuluan
Titrasi oksidi-reduktometri merupakan teknik titrasi yang melibatkan perpindahan elektron dengan pelibatan unsur yang mengalami perubahan tingkat oksidasi (Darusman 2001). Titrasi I2 dan natrium sulfat merupakan salah satu teknik yang menggunakan prinsip reduktometri. Iodometri dapat pula digunakan dalam analisis kuantitatif kandungan vitamin C karena I2 dapat mengoksidasi vitamin C. Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C6H8O6. Dalam bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190-192 C bersifat larut dalam air sedikit larut dalam aseton atau alkohol yang mempunyai berat molekul rendah. Vitamin C sukar larut dalam kloroform, ether dan benzen. Vitamin C dengan logam akan membentuk garam. Sifat asam ditentukan oleh ionisasi enolgroup pada atom C nomor 3. Pada pH rendah vitamin C lebih stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi apabila terdapat katalisator Fe, Cu, enzim askorbat oksidase, sinar dan temperatur yang tinggi. Larutan encer vitamin C pada pH kurang dari 7,5 masih stabil apabila tidak ada katalisator. Oksidasi vitamin C akan terbentuk asam dehidroasam askorbat. Vitamin C termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam, oleh karena itu penggunaaan vitamin C sebagai antioksidan semakin sering dijumpai. Kebutuhan vitamin C yang diperlukan tiap orang setiap harinya 45 sampai 95 mg/hari (Sudarmadji 2003).
Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah menganalisis ion-ion melalui prinsip reduksi-oksidasi dengan menggunakan teknik iodometri.
Prosedur Percobaan
Percobaan pertama adalah standardisasi Na2S2O3. Sebanyak 10 mL larutan primer KIO3, ditambahkan 10 mL KI 1 N dan 10 mL HCl 1 N dan dititrasi dengan Na2S2O3 sampai menjadi merah sekali kemudian diberi 2 mL larutan amilum dan titrasi dilanjutkan sampai tidak berwarna. Titrasi dilakukan enam kali.
Standardisasi I2 dilakukan dengan menambahkan 10 mL Na2S2O3 dengan 1 mL amilum dan dititrasi dengan I2. Titrasi dihentikan ketika terjadi perubahan warna dari tak berwarna menjadi biru tua. Titrasi dilakukan enam kali.
Penentuan vitamin C dari buah jeruk. Buah jeruk dikupas, dibuang kulitnya, ditimbang 20 g daging jeruk dan dihaluskan dalam mortar. Air destilata 50 mL ditambahkan dan dipindahkan ke dalam Erlenmeyer. Ditambahkan 20 tetes amilum dan dititrasi dengan I2 0,1 N. Titrasi dilakukan triplo.
Penentuan vitamin dari tablet. Ditimbang 0,2 g serbuk tablet vitamin C dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Serbuk dilarutkan dengan 30 mL aquades, kemudian ditambahlan 20 tetes amilum dan dititrasi dengan I2 0,1 N. Titrasi dilakukan triplo.
Hasil Percobaan
Tabel 1 Standardisasi Na2S2O3 dengan Larutan Baku KIO3
| Ulangan | Volume KIO3 yang dipipet (ml) | Volume Titran | [Na2S2O3]
(N) |
||
| Awal
(ml) |
Akhir
(ml) |
Terpakai
(ml) |
|||
| 1 | 10 | 0 | 9,8 | 9,8 | 0,1020 |
| 2 | 10 | 9,8 | 19,9 | 10,1 | 0,0990 |
| 3 | 10 | 19,9 | 29,9 | 10,0 | 0,1000 |
| 4 | 10 | 30,1 | 39,9 | 9,8 | 0,1020 |
| 5 | 10 | 0 | 9,8 | 9,8 | 0,1020 |
| 6 | 10 | 11,9 | 21,8 | 9,9 | 0,1010 |
| Rata-Rata | 0,1010 | ||||
Indikator yang digunakan: Amilum
Perubahan warna yang terjadi:
1. Titrasi pertama sebelum ditetesi indikator: jingga menjadi kuning.
2. Titrasi kedua setelah ditetesi indikator: biru kehitaman menjadi tidak berwarna.
Contoh Perhitungan Ulangan ke-1:
Normalitas Na2S2O3
V Na2S2O3x N Na2S2O3 = VKIO3 x NKIO3
9,8 x N Na2S2O3 = 10 x 0,1
N Na2S2O3 = 1 = 0,1020 N
9,8
Rata-Rata [Na2S2O3] = 0,1020+0,0990+0,1+0,1020+0,1020+0,1010 = 0,1010 N
6
= 1,26 x 10-3
Tabel 2 Standardisasi I2 dengan Larutan Na2S2O3
| Ulangan | Volume Na2S2O3 yang Dipipet (ml) | Volume Titran | [ I2 ]
(N) |
||
| Awal
(ml) |
Akhir
(ml) |
Terpakai
(ml) |
|||
| 1 | 10 | 0 | 10 | 10 | 0,1010 |
| 2 | 10 | 10 | 20,1 | 10,1 | 0,1000 |
| 3 | 10 | 20,1 | 30,2 | 10,1 | 0,1000 |
| 4 | 10 | 5,6 | 15,6 | 10 | 0,1010 |
| 5 | 10 | 21,2 | 31,3 | 10,1 | 0,1000 |
| 6 | 10 | 31,4 | 41,6 | 10,2 | 0,0990 |
| Rata-Rata | 0,1000 | ||||
Indikator yang digunakan: Amilum
Perubahan warna yang terjadi: tidak berwarna menjadi biru kehitaman.
Contoh perhitungan ulangan 1:
NNa2S2O3 hasil standardisasi = 0,1010 N
Normalitas I2
Vtitran x Ntitran = V Na2S2O3 x NNa2S2O3
10 x Ntitran = 10 x 0,1010
Ntitran = 0,1010 N
Rata-Rata [I2] = 0,1010+0,1000+0,1000+0,1010+0,1000+0,0990 = 0,1000 N
6
= 7,53 x 10-4
Tabel 3 Penentuan Kadar Vitamin C dari Tablet
| Ulangan | Volume Larutan Vitamin C(ml) | Volume Titran | N Vitamin C (N) | Kadar Vitamin C | |||
| Awal
(ml) |
Akhir
(ml) |
Terpakai
(ml) |
|||||
| 1 | 50 | 30,1 | 36 | 5,9 | 0,0118 | 25,90 | |
| 2 | 50 | 0 | 5,6 | 5,6 | 0,0112 | 24,38 | |
| 3 | 50 | 15,6 | 21,2 | 5,6 | 0,0112 | 24,38 | |
| Rata-Rata | 24,89 | ||||||
Perubahan warna yang terjadi: kuning menjadi biru kehitaman
Contoh perhitungan ulangan 1:
N I2 hasil standardisasi = 0,1000 N
Normalitas Vitamin C
Vtitran x Ntitran = V Vit C x NVit C
5,9 x 0,1= 50 x NVit C
NVit C = 0,0118 N
= 0,8776
Tabel 4 Penentuan Kadar Vitamin C dari Buah Jeruk Ponkam
| Ulangan | Volume Larutan Vitamin C(ml) | Volume Titran | N Vitamin C (N) | Kadar Vitamin C | |||
| Awal
(ml) |
Akhir
(ml) |
Terpakai
(ml) |
|||||
| 1 | 50 | 0 | 0,4 | 0,4 | 0,0008 | 0,0352 | |
| 2 | 50 | 0,4 | 0,7 | 0,3 | 0,0006 | 0,0264 | |
| 3 | 50 | 0,8 | 1,2 | 0,4 | 0,0008 | 0,0352 | |
| Rata-Rata | 0,0322 | ||||||
Perubahan warna yang terjadi: jingga menjadi biru kehitaman
Contoh perhitungan ulangan 1:
N I2 hasil standardisasi = 0,1000 N
Normalitas Vitamin C
Vtitran x Ntitran = V Vit C x NVit C
0,4 x 0,1= 50 x NVit C
NVit C = 0,0008 N
= 0,0051
Pembahasan
Teknik iodometri dapat menentukan kadar suatu zat. Pada percobaan ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga konsentrasi zat yang dicari dapat dihitung. Teknik ini menggunakan cara titrasi dalam penentuan kadar suatu zat. Dalam proses titrimetri, diperlukan adanya standardisasi dengan larutan baku. Hal ini perlu dilakukan karena volume dan konsentrasi pereaksi harus diketahui dengan tepat. Standardisasi Na2S2O3 menghasilkan nilai konsentrasi Na2S2O3 sebesar 0,1010 N. Nilai ini akan digunakan dalam menentukan konsentrasi I2. Konsentrasi I2 ditentukan dengan titrasi oleh natrium thiosulfat (Na2S2O3). Konsentrasi I2 perlu diketahui dengan pasti karena I2 bertindak sebagai pengoksidasi dalam penentuan kadar vitamin C. Dari hasil percobaan, diketahui bahwa konsentrasi I2 adalah sebesar 0,10 N.
Hasil pengukuran kandungan vitamin C menunjukan bahwa rata-rata dalam setiap 10 gram daging buah jeruk Ponkam terkandung 0,0322% vitamin C. Berdasarkan literatur, sari buah jeruk mengandung 40-70 mg vitamin C per 100 ml, tergantung pada jenisnya (Tarwotjo 1998). Hasil percobaan menunjukan bahwa dalam setiap 0,2 gram tablet terkandung 24,89% vitamin C.
Simpulan
Penentuan kadar vitamin C dapat dilakukan dengan menggunakan teknik analisis iodometri. Hasil percobaan menunjukan bahwa rata-rata dalam setiap 10 gram daging buah jeruk Ponkam terkandung 0,0322% vitamin C. Pada tablet vitamin C yang diuji diketahui bahwa rata-rata dalam setiap 0,2 gram tablet, kadar vitamin C terkandung 24,89%.
Daftar Pustaka
Darusman L K. 2001. Diktat Kimia Analitik 1 jilid 1. Bogor: Departemen Kimia FMIPA-IPB.
Sudarmadji, dkk. 2003. Analisa Bahan Makanan Dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty.
Tarwotjo C.S. 1998. Dasar-dasar Gizi Kuliner. Jakarta: Grasindo.
LAPORAN PRAKTIKUM
KULTUR JARINGAN TANAMAN
Disusun oleh:
Fery Santosa G34070035
Afticha Fauzana G34070058
Asisten oleh:
Zainati Fakhrina G34054029
DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
Pendahuluan
Kultur jaringan merupakan salah satu metode perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif. Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri tumbuh menjadi tanaman lengkap. Kemampuan tersebut disebut dengan “totipotensi”. Teknik kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif. Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro. In vitro karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Metode perbanyakan tanaman secara in vitro dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu melalui perbanyakan tunas dari mata tunas apikal, melalui pembentukan tunas adventif, dan embriogenesis somatik, baik secara langsung maupun melalui tahap pembentukan kalus. Tahapan yang dilakukan pada kultur jaringan, yaitu: pembuatan media, inisiasi, sterilisasi, multiplikasi, pengakaran, dan aklimatisasi (Pierik 1999).
Pengerjaan kultur jaringan harus dilihat tipe jaringan yang akan digunakan. Beberapa tipe jaringan yang baik digunakan, tipe yang pertama adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Jaringan tipe pertama ini biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksilar, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium batang. Tipe jaringan yang kedua adalah jaringan parenkima, yaitu jaringan penyusun tanaman muda yang sudah mengalami diferensiasi dan menjalankan fungsinya. Contoh jaringan tersebut adalah jaringan daun yang sudah berfotosintesis dan jaringan batang atau akar yang berfungsi sebagai tempat cadangan makanan.
Media yang digunakan dalam kultur jaringan berbeda komposisinya tergantung kebutuhan. Perbedaan komposisi media dapat mengakibatkan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang ditumbuhkan secara in vitro. Media Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara makro, mikro dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman (Gardner 1991). Nutrien yang tersedia di media berguna untuk metabolisme, dan vitamin pada media dibutuhkan oleh organisme dalam jumlah sedikit untuk regulasi. Media MS tidak terdapat zat pengatur tumbuh (ZPT) sehingga ZPT ditambahkan pada media (eksogen). ZPT atau hormon tumbuhan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Interaksi dan keseimbangan antara ZPT yang diberikan dalam media (eksogen) dan yang diproduksi oleh sel secara endogen menentukan arah perkembangan suatu kultur. Penambahan hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh pada jaringan parenkim dapat mengembalikan jaringan menjadi meristematik kembali dan berkembang menjadi jaringan adventif tempat pucuk, tunas, akar maupun daun pada lokasi yang tidak semestinya. Proses ini dikenal dengan peristiwa dediferensiasi. Dediferensiasi ditandai dengan peningkatan aktivitas pembelahan, pembesaran sel, dan perkembangan jaringan.
Penggunaan kultur jaringan mempunyai kelebihan yaitu mampu memproduksi bibit yang seragam dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat sehingga kultur jaringan sering dijadikan solusi sebagai metode perbanyakan tanaman dan juga dapat digunakan sebagai suatu metode penyimpanan plasma nutfah yang tidak membutuhkan tempat yang besar. Keberhasilan dari kultur jaringan sangat bergantung dari ketepatan konsentrasi nutrisi yang berada di dalam media kultur. Ketepatan konsentrasi ini menyangkut pada ketersediaan nutrisi bagi eksplan tanaman. Kelebihan nutrisi dari tanaman akan menyebabkan tanaman mengalami keracunan unsur hara. Oleh karena itu, pembuatan larutan stock dan sterilisasi media dianggap penting untuk diketahui sebagai sarana penenunjang kebutuhan informasi akan kultur jaringan.
Tujuan
Tujuan pembuatan media MS yaitu mengetahui cara pembuatan media MS dan mengetahui komposisi-komposisi media MS. Tujuan induksi kalus yaitu mengetahui zat pengatur tumbuh dalam pembentukan kalus. Tujuan sterilisasi pada kultur explan yaitu mengatasi terjadinya kontaminasi dalam kultur in-vitro. Tujuan penggunaan IAA pada kultur tanaman krisan yaitu memahami kandungan dalam iaa dan pengaruh pertumbuhan akar dalam stek tanaman krisan. Tujuan penggunaan BAP pada kultur tanaman krisan yaitu mengetahui petumbuhan dan perkembangan tunas pada tanaman krisan.
Metode
- Sterilisasi Eksplan Embrio Padi
Bulir padi dibuka kulitnya
Kemudian dilakukan pencucian dengan air mengalir
Bulir padi yang telah dicuci kemudian direndam dalam larutan khlorox (bayclean) 20 % selama 20 menit
Bulir padi direndam dalam air yang berisi Tween 80 2 tetes
Bulir padi dibuilas 3 kali dengan akuades
Bulir padi ditempatkan dalam wadah tertutup
Padi siap dikulturkan di dalam laminar
Dilakukan pengamatan
- Sterilisasi eksplan Daun Tembakau/Batang Jarak Pagar
Batang jarak daun tembakau diambil dari tanaman induk
Dicuci dengan sabun dan dibilas dengan air kran
Daun/ batang dipotong menjadi besaran tertentu agar seluruh jaringan terendam dalam larutan sterilan
Sterilisasi dengan larutan fungisida Dithane 1 gram/ L dan bakterisida Agrept 1 gram/ L selama 30 menit
Eksplan dipindahkan ke dalam larutan alcohol 70 % selama 10 menit
Eksplan direndam dalam larutan Bayclin 10 % dan Tween 80 selama 15 menit
Eksplan dibilas dengan akuades steril 3 kali
Eksplan ditiriskan secara aseptik dan siap dikulturkan
3. Multiplikasi Tunas Nanas
Botol berisi eksplan nanas yang telah tumbuh dan media baru disiapkan
Botol dibuka dan dilakukan pengambilan anakan tanaman nanas dengan pinset dan pisau steril
Anakan dipindahkan ke dalam media baru
Elongasi
- Kultur Stek Batang Krisan Dengan Media (NAA & BAP)
Tanaman krisan dan media baru disiapkan (mengandung NAA atau BAP)
dilakukan pengambilan batang tanaman krisan dengan pinset dan pisau steril
Anakan dipindahkan ke dalam media baru
Terjadi perakaran (NAA) atau tunas samping (BAP)
Hasil
- Foto hasil akhir Afticha
Foto hasil kalus padi
Keterangan: terjadi kontaminasi
Foto hasil nenas
Keterangan: jaringan nenas telah tumbuh
Foto hasil Cryssan media NAA
Keterangan: jaringan Cryssan telah tumbuh
Foto hasil Cryssan media BAP
Keterangan: jaringan Cryssan telah tumbuh
- Foto hasil akhir Fery
Foto hasil kalus padi
Keterangan: kalus padi telah tumbuh
Foto hasil nenas
Keterangan: jaringan nenas telah tumbuh
Foto hasil Cryssan media IAA
Keterangan: jaringan Cryssan telah tumbuh
Foto hasil Cryssan media BAP dengan kinetin
Keterangan: jaringan Cryssan telah tumbuh
Pembahasan
Kultur jaringan merupakan teknik memperbanyak tanaman dengan memperbanyak jaringan mikro tanaman yang ditumbuhkan in vitro menjadi tanaman yang sempurna dalam jumlah yang tidak terbatas (Dwidjoseputro 1986).. Dasar dari kultur jaringan ini adalah teori totipotensi sel yang berbunyi “setiap sel organ tanaman akan mampu tumbuh menjadi tanaman yang sempurna jika ditempatkan di lingkungan yang sesuai. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperbanyak tanaman dengan waktu yang lebih singkat. Tanaman yang dibudidayakan pada praktikum kali ini yaitu padi, tembakau, jarak, nenas, dan Cryssan.
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf (Dwidjoseputro 1986). Pelaksanaan teknik ini memerlukan berbagai prasyarat untuk mendukung kehidupan jaringan yang dibiakkan. Yang paling esensial adalah wadah dan media tumbuh yang steril. Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan. Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan untuk hidup dan memperbanyak dirinya (Gardner 1991). Apabila melakukan gerakan-gerakan selama bekerja di dalam laboratorium, akan mengakibatkan timbulnya suatu awan debu yang hampir tidak tampak. Debu tersebut mengandung spora yang sangat besar jumlahnya. Bila spora ini kontak dengan media kultur yang digunakan dalam pekerjaan tersebut, spora akan tumbuh dengan cepat. Spora dalam beberapa hari akan tumbuh menjadi koloni yang terlihat oleh mata biasa (Wetherel 1982). Untuk membuat media dengan jumlah zat seperti yang ditentukan, diperlukan penimbangan dan penakaran bahan secara tepat (Rahardja 1988).
Pada praktikum pembuatan media dilakukan dengan cara penimbangan bahan yang akan digunakan kemudian dilarutkan dalam air destilasi dan pH larutan diukur. Agar dimasukkan dan dimasak hingga mendididh, lalu tuangkan media kedalam botol kaca, setelah itu berikan label media dan disterilkan dengan autoklaf. Media yang telah dibuat digunakan untuk praktikum selanjutnya.
Bahan yang digunakan pada praktikum kedua adalah padi. Tingkat keberhasilan yang didapat adalah 0% (Afticha) dan 100% (Fery). Eksplan yang dikulturkan tidak hidup karena mengalami kontaminasi oleh berbagai macam jamur. Kontaminasi oleh berbagai macam jamur disebabkan oleh sterilisasi yang kurang sempurna sehingga mikroba-mikroba yang ada didalam maupun disekitar eksplan berkembang biak di dalam media. Sterilisasi yang kurang sempurna kemungkinan besar terjadi pada saat eksplan akan ditanam di dalam botol kultur. Pada saat eksplan akan ditanam, dilakukan sterilisasi bahan tanam dengan menggunakan alkohol 70%. Perendaman yang terlalu cepat dapat menyebabkan mikroba yang ada masih terbawa di sekitar permukaan eksplan sehingga peristiwa kontaminasi tidak dapat dihindarkan. Eksplan padi terkontaminasi oleh jamur dan bakteri, pada kontaminasi jamur terlihat hifa putih hingga hitam (jenis yang berbeda) muncul pada media ataupun pada bahan tanam. Kontaminasi yang terjadi disebabakan oleh faktor media ataupun bahan tanam yang sterilisasinya kurang sempurna. Sterilisasi yang kurang sempurna ini mengakibatkan tumbuhnya mikroba dalam media yang sangat kaya akan nutrisi. Fungsi dari sterilisasi adalah membunuh mikroba akan tetapi apabila sterilisasi yang dilakukan terlalu lama maka jaringan tanaman juga akan ikut mati.
Induksi kalus pada padi (Oryza sativa), sebelum melakukan penanaman anter padi, bulir padi yang dipilih adalah yang bulir tidak layu dan mengalami cekaman. Bulir tersebut dipetik dan dimasukkan ke dalam botol yang sebelumnya dikupas yang kemudian disterilkan dengan merendam dalam larutan Bayclin 20% dan akuades serta larutan Tween 80. Kemudian anter tersebut ditanam di cawan petri yang sudah berisi media MS + 2,4 D 2ppm + manitol 3%. Keberhasilan kultur anter ini dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu genotype suatu tanaman, komposisi media kultur, kondisi tanaman donor, tahap perkembangan polen, dan pra perlakuan sebelum anter di inisiasi (Chu 1978). . Kalus merupakan kumpulan sel-sel parenkim yang laju pertumbuhannya tidak seragam. Kalus pada umumnya tumbuh pada jaringan kambium, namun kadang-kadang dapat juga tumbuh dari sel korteks atau galih (rongga gabus). Inisiasi kalus sebenarnya berasal dari sel mikrospora atau antera dan bukan berasal dari dinding antera. Dinding antera hanya berperan dalam menyediakan bahan-bahan nutrisi esensial terhadap sel mikrospora yang diperlukan untuk dediferensiasi serta berperan sebagai sumber metabolic melalui absorbs, penyimpanan dan transformasi senyawa-senyawa eksogen dari media kultur. Setelah pengamatan selama 4 minggu, pada bulir padi tersebut terdapat kalus . Hal ini membuktikan bahwa eksplan ini tanggap terhadap suatu media yang dimana media tersebut yaitu MS+ 2,4 D 2 ppm+ manitol 3%. Penambahan manitol 3% pada media, diduga manitol tersebut merupakan gula alkohol yang berperan di dalam memperbaiki tekanan osmotic media sehingga sel-sel menjadi lebih aktif membelah dalam membentuk kalus embrionik serta fungsi dari auksin 2,4-D yang berguna untuk merangsang pertumbuhan kalus dengan kadar yang rendah sedangkan penggunaan kosentrasi aksin terlalu tinggi bukan untuk memacu pertumbuhan melainkan menghambat pertumbuhan. Media yang mempunyai tekanan osmosis yang tinggi sangat efektif dalam menginduksi embryogenesis pada eksplan. Penggunaan Larutan Bayklin dalam sterilisasi eksplan Karena dalam lautan tersebut terdapa senyawa Sodium hipoklorit yang dapat membunuh mikroorganisme yang bersifat spesifik yang dianatranya bakteri dan cendawan.
Bahan yang digunakan pada praktikum ketiga adalah tembakau dan batang jarak. Foto pada praktikum ketiga ini tidak disertakan karena seluruh percobaannya tingkat keberhasilan yang didapat adalah 0% sehingga botol-botol kaca yang digunakan langsung dibersihkan. Praktikum kedua ini gagal karena mengalami kontaminasi oleh berbagai macam jamur. Kontaminasi oleh berbagai macam jamur disebabkan oleh sterilisasi yang kurang sempurna sehingga mikroba-mikroba yang ada didalam maupun disekitar eksplan berkembangbiak di dalam media. Kontaminasi dari eksplan sulit diatasi karena dalam hal ini metode sterilisasi harus selektif. Meskipun sterilisasi telah dilakukan dengan berbagai cara, namun kadang-kadang kontaminasi tetap saja terjadi. Hal ini karena pada eksplan telah terjadi kontaminasi internal. Cara penggulangannya dilakukan treatment pada tanaman yang akan dijadikan sebagai sumber eksplan. Treatment-nya adalah dengan mengisolasi eksplan, disemprot dengan bakterisida, fungisida selama 3 bulan setiap hari dengan konsentrasi 150-200 mg/l (Anonim 2008).
Bahan yang digunakan pada praktikum keempat adalah nenas. Nanas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Tingkat keberhasilan yang didapat adalah 100%. Nenas dapat tumbuh baik memperbanyak jaringannya sehingga diperoleh suatu tanaman utuh. Praktikum nenas ini menggunakan media MS tanpa zpt.
Bahan yang digunakan pada praktikum kelima dan keenam adalah krisan. Krisan (Chrysanthemum indicum) merupakan tanaman berbunga menawan yang memiliki potensi yang sangat luas. Bibit tanaman krisan yang bebas penyakit dapat dihasilkan melalui metode kultur in vitro. Pembentukan akar dapat dipacu oleh hormon auksin, salah satunya adalah Asam Naftalen Asetat (NAA). Pada saat penanaman, bahan ditanam dalam keadaan berdiri bukan rebah. Hal ini untuk memudahkan penyerapan nutrisi yang ada di dalam media. Apabila penanaman dilakukan dalam keadaan rebah, bagian daun yang mengadakan kontak dengan media merupakan daun yang tidak mengalami pelukaan sehingga nutrisi dari media akan sulit masuk ke dalam jaringan eksplan. Pembentukan akar pada kultur didorong oleh adanya ZPT IAA dan NAA yang diberikan pada media tanam. Proses pemindahan eksplan ke dalam media dengan cara mengambil stek dari tanama krisan yang aseptic dengan memasukkan kedalam media yang mengandung auksin. Pembentukan akar adventif sanagat berkaitan dengan kosentrasi hormon alami yang terbentuk di dalam tanaman, sehingga terdapat kaitan yang sangat erat antara hormon tanaman dengan kemampuan berakarnya stek. Dari semua jenis zat pengatur tumbuh yang sangat efektif mengatur pertumbuhan akar adalah auksin. Asam indol-3 asetat (IAA) merupakan endogeneous auksin yang terbentuk dari triptopan yang merupakan suatu senyawa dengan inti Indole dan selalu terdapat dalam jaringan tanaman. Proses biosintesis triptopan berubah menjadi IAA dengan membentuk Indole 3 acetaldehid. Asam indol-3 asetat (IAA) dalam kultur in vitro merupakan senyawa yang menunjukkan aktivitas auksin yang mendorong pembentukan akar adventif. Pembentukan inisiasi akar dalam batang krisan tergantung pada tersedianya auksin di dalam tanaman itu sendiri atau endogen dan ditambah pemacu auksin (rooting Co-Factors) yang secara bersama-sama mengatur sintesis RNA untuk membentuk primordial akar. Adapun struktur dari IAA sebagai berikut:
Gambar Struktur senyawa IAA (www.google.com)
Pengaruh BAP dalam kultur in-vitro tanaman krisan, pengambilan eksplan tanaman krisan pada uji efek BAP ini sama seperti uji pengaruh IAA dalam kultur in vitro. Zat pengatur tumbuh BAP merupakn turunan dari Sitokinin. Peranan dari sitokinin yaitu untuk merangsang terjadinya pembelahan sel sehingga terjadinya pembentukan tunas-tunas aksilar pada tanaman. Pembentukan tunas tidak hanya membutuhkan BAP dengan kosentrasi yang tinggi, dalam hal ini ada campur tanga dari hormon auksin endogen dalam jaringan tanaman itu sendiri dan bila tunas muda muncul dan dapat memproduksi auksin secara aktif maka auksin eksogen tidak diperlukan untuk memcau pertumbuhan pucuk. Pada hasil pengamatan terdapat banyak tunas aksilar dan daun pada tanaman tersebut tetap berwarna hijau yang juga dipengaruhi oleh BAP karena salah satu fungsinya yaitu untuk menghindari senesscene dini sehingga klorofil tidak rusak.
Gambar struktur ZPT. BAP (www.google.com)
Simpulan dan saran
Kultur jaringan merupakan metode perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif yang berprinsip pada teori totipotensi. Kultur jaringan mampu memproduksi bibit yang seragam dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat sehingga sering dijadikan solusi sebagai metode perbanyakan tanaman dan digunakan sebagai suatu metode penyimpanan plasma nutfah yang tidak membutuhkan tempat yang besar. Hasil yang diperoleh dari percobaan menunjukkan tingkat keberhasilan 0% untuk padi, tembakau, dan batang jarak sedangkan tingkat keberhasilan 100% untuk padi, nenas, dan Cyssan. Zat pengatur tumbuh berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Zat pengatur tumbuh tertentu dapat memberikan peran tertentu terhadap suatu tanaman.
Saran yang dapat kami berikan adalah pada saat sterilisasi jangan terlalu singkat melakukan perendaman karena sterilisasi yang dilakukan terkadang belum membunuh keseluruhan mikroba sehingga terjadi kontaminasi. Proses penanaman sebaiknya dicontohkan terlebih dahulu cara penanaman eksplan yang benar sehingga tidak terjadi kesalahan sterilisasi bahan yang berakibat terjadinya kontaminasi.
Daftar Pustaka
Dwidjoseputro D. 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Gramedia.
Gardner dan Franklin P. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: UI Press.
Pierik RLM. 1999. In vitro culture of higher plants. 4th Edition. USA: Kluwer Academic Publishers.
Rahardja PE. 1988. Kultur Jaringan Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Jakarta: Penebar Swadaya.
Wetherel DF. 2008. Propagasi Tanaman Secara In Vitro. New Jersey: Avery Publishing Group Inc.

