Laporan Kimia Analitik                                             Asisten            : Arini septianti

Dosen             : Zulhan Arief, S.Si

Hari/tanggal  : Senin,

Nama  : Afticha Fauzana

NRP    : G34070058

OKSIDI REDUKTOMETRI

Pendahuluan

Titrasi oksidi-reduktometri merupakan teknik titrasi yang melibatkan perpindahan elektron dengan pelibatan unsur yang mengalami perubahan tingkat oksidasi (Darusman 2001). Titrasi I2 dan natrium sulfat merupakan salah satu teknik yang menggunakan prinsip reduktometri. Iodometri dapat pula digunakan dalam analisis kuantitatif kandungan vitamin C karena I2 dapat mengoksidasi vitamin C. Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C6H8O6. Dalam bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190-192­­­ C bersifat larut dalam air sedikit larut dalam aseton atau alkohol yang mempunyai berat molekul rendah. Vitamin C sukar larut dalam kloroform, ether dan benzen. Vitamin C dengan logam akan membentuk garam. Sifat asam ditentukan oleh ionisasi enolgroup pada atom C nomor 3. Pada pH rendah vitamin C lebih stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi apabila terdapat katalisator Fe, Cu, enzim askorbat oksidase, sinar dan temperatur yang tinggi. Larutan encer vitamin C pada pH kurang dari 7,5 masih stabil apabila tidak ada katalisator. Oksidasi vitamin C akan terbentuk asam dehidroasam askorbat. Vitamin C termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam, oleh karena itu penggunaaan vitamin C sebagai antioksidan semakin sering dijumpai. Kebutuhan vitamin C yang diperlukan tiap orang setiap  harinya 45 sampai 95 mg/hari (Sudarmadji 2003).

Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah menganalisis ion-ion melalui prinsip reduksi-oksidasi dengan menggunakan teknik iodometri.

Prosedur Percobaan

Percobaan pertama adalah standardisasi Na2S2O3. Sebanyak 10 mL larutan primer KIO3, ditambahkan 10 mL KI 1 N dan 10 mL HCl 1 N dan dititrasi dengan Na2S2O3 sampai menjadi merah sekali kemudian diberi 2 mL larutan amilum dan titrasi dilanjutkan sampai tidak berwarna. Titrasi dilakukan enam kali.

Standardisasi  I2 dilakukan dengan menambahkan 10 mL Na2S2O3 dengan 1 mL amilum dan dititrasi dengan I2. Titrasi dihentikan ketika terjadi perubahan warna dari tak berwarna menjadi biru tua. Titrasi dilakukan enam kali.

Penentuan vitamin C dari buah jeruk. Buah jeruk dikupas, dibuang kulitnya, ditimbang 20 g daging jeruk dan dihaluskan dalam mortar. Air destilata 50 mL ditambahkan dan dipindahkan ke dalam Erlenmeyer. Ditambahkan 20 tetes amilum dan dititrasi dengan I2 0,1 N. Titrasi dilakukan triplo.

Penentuan vitamin dari tablet. Ditimbang 0,2 g serbuk tablet vitamin C dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Serbuk dilarutkan dengan 30 mL aquades, kemudian ditambahlan 20 tetes amilum dan dititrasi dengan I2 0,1 N. Titrasi dilakukan triplo.

Hasil Percobaan

Tabel 1 Standardisasi Na2S2O3 dengan Larutan Baku KIO3

Ulangan Volume KIO3 yang dipipet (ml) Volume Titran [Na2S2O3]

(N)

Awal

(ml)

Akhir

(ml)

Terpakai

(ml)

1 10 0 9,8 9,8 0,1020
2 10 9,8 19,9 10,1 0,0990
3 10 19,9 29,9 10,0 0,1000
4 10 30,1 39,9 9,8 0,1020
5 10 0 9,8 9,8 0,1020
6 10 11,9 21,8 9,9 0,1010
Rata-Rata 0,1010

Indikator yang digunakan: Amilum

Perubahan warna yang terjadi:

1. Titrasi pertama sebelum ditetesi indikator: jingga menjadi kuning.

2. Titrasi kedua setelah ditetesi indikator: biru kehitaman menjadi tidak berwarna.

Contoh Perhitungan Ulangan ke-1:

Normalitas Na2S2O3

V Na2S2O3x N Na2S2O3 =  VKIO3 x NKIO3

9,8 x N Na2S2O3 =  10 x 0,1

N Na2S2O3 =    1   = 0,1020 N
9,8

Rata-Rata [Na2S2O3] = 0,1020+0,0990+0,1+0,1020+0,1020+0,1010  = 0,1010 N

6

= 1,26 x 10-3

Tabel 2 Standardisasi I2 dengan Larutan Na2S2O3

Ulangan Volume Na2S2O3 yang Dipipet (ml) Volume Titran [ I2 ]

(N)

Awal

(ml)

Akhir

(ml)

Terpakai

(ml)

1 10 0 10 10 0,1010
2 10 10 20,1 10,1 0,1000
3 10 20,1 30,2 10,1 0,1000
4 10 5,6 15,6 10 0,1010
5 10 21,2 31,3 10,1 0,1000
6 10 31,4 41,6 10,2 0,0990
Rata-Rata 0,1000

Indikator yang digunakan: Amilum

Perubahan warna yang terjadi: tidak berwarna menjadi biru kehitaman.

Contoh perhitungan ulangan 1:

NNa2S2O3 hasil standardisasi = 0,1010 N

Normalitas I2

Vtitran x Ntitran =  V Na2S2O3 x NNa2S2O3

10 x Ntitran =  10 x 0,1010

Ntitran =  0,1010 N

Rata-Rata [I2] = 0,1010+0,1000+0,1000+0,1010+0,1000+0,0990 = 0,1000 N

6

= 7,53 x 10-4

Tabel 3 Penentuan Kadar Vitamin C dari Tablet

Ulangan Volume Larutan Vitamin C(ml) Volume Titran N Vitamin C (N) Kadar Vitamin C
Awal

(ml)

Akhir

(ml)

Terpakai

(ml)

1 50 30,1 36 5,9 0,0118 25,90
2 50 0 5,6 5,6 0,0112 24,38
3 50 15,6 21,2 5,6 0,0112 24,38
Rata-Rata 24,89

Perubahan warna yang terjadi: kuning menjadi biru kehitaman

Contoh perhitungan ulangan 1:

N I2 hasil standardisasi = 0,1000 N

Normalitas Vitamin C

Vtitran x Ntitran =  V Vit C x NVit C

5,9 x 0,1=  50 x NVit C

NVit C =  0,0118 N

= 0,8776

Tabel 4 Penentuan Kadar Vitamin C dari Buah Jeruk Ponkam

Ulangan Volume Larutan Vitamin C(ml) Volume Titran N Vitamin C (N) Kadar Vitamin C
Awal

(ml)

Akhir

(ml)

Terpakai

(ml)

1 50 0 0,4 0,4 0,0008 0,0352
2 50 0,4 0,7 0,3 0,0006 0,0264
3 50 0,8 1,2 0,4 0,0008 0,0352
Rata-Rata 0,0322

Perubahan warna yang terjadi: jingga menjadi biru kehitaman

Contoh perhitungan ulangan 1:

N I2 hasil standardisasi = 0,1000 N

Normalitas Vitamin C

Vtitran x Ntitran =  V Vit C x NVit C

0,4 x 0,1=  50 x NVit C

NVit C =  0,0008 N

= 0,0051

Pembahasan

Teknik iodometri dapat menentukan kadar suatu zat. Pada percobaan ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga konsentrasi zat yang dicari dapat dihitung. Teknik ini menggunakan cara titrasi dalam penentuan kadar suatu zat. Dalam proses titrimetri, diperlukan adanya standardisasi dengan larutan baku. Hal ini perlu dilakukan karena volume dan konsentrasi pereaksi harus diketahui dengan tepat. Standardisasi Na2S2O3 menghasilkan nilai konsentrasi Na2S2O3 sebesar 0,1010 N. Nilai ini akan digunakan dalam menentukan konsentrasi I2. Konsentrasi I2 ditentukan dengan titrasi oleh natrium thiosulfat (Na2S2O3).  Konsentrasi I2 perlu diketahui dengan pasti karena I2 bertindak sebagai pengoksidasi dalam penentuan kadar vitamin C. Dari hasil percobaan, diketahui bahwa konsentrasi I2 adalah sebesar 0,10 N.

Hasil pengukuran kandungan vitamin C menunjukan bahwa rata-rata dalam setiap 10 gram daging buah jeruk Ponkam terkandung 0,0322% vitamin C. Berdasarkan literatur, sari buah jeruk mengandung 40-70 mg vitamin C per 100 ml, tergantung pada jenisnya (Tarwotjo 1998). Hasil percobaan menunjukan bahwa dalam setiap 0,2 gram tablet  terkandung 24,89% vitamin C.


Simpulan

Penentuan kadar vitamin C dapat dilakukan dengan menggunakan teknik analisis iodometri. Hasil percobaan menunjukan bahwa rata-rata dalam setiap 10 gram daging buah jeruk Ponkam terkandung 0,0322% vitamin C. Pada tablet vitamin C yang diuji diketahui bahwa rata-rata  dalam setiap 0,2 gram tablet, kadar vitamin C  terkandung 24,89%.

Daftar Pustaka

Darusman L K.  2001. Diktat Kimia Analitik 1 jilid 1. Bogor: Departemen Kimia FMIPA-IPB.

Sudarmadji, dkk. 2003. Analisa Bahan Makanan Dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty.

Tarwotjo C.S. 1998. Dasar-dasar Gizi Kuliner. Jakarta: Grasindo.

Comments are closed.